Birama Kasih Dalam Sabda-Mu,


 PART 1 

(ini tulisan 7 tahun yang lalu, harap maklum)

           Butiran bintang dan terangnya rembulan temani  aku malam itu, merenung sendiri, berkisah sendiri, dan bersedih sendiri dibawah naungan langit ciptaan Tuhan. Duduk dibawah lindungan bumi nan kokoh ini. Disudut terpencil bagian desa ini. Akulah gadis yang 10 tahun lalu hijrah ke desa ini. Desa yang kini sangat teramat Aku cintai. Desa dimana ibuku tumbuh besar dan dilahirkan. Tanah yang menjadi kelanjutan kisah keluargaku. Disini, sebagian cerita hidupku terjadi, berlalu, dan berlangsung. Aku dan semua orang yang berarti dalam hidupku. Bertemu dengana keluarga besar, nenek, adik-adik sepupu, paman, bibi dan seluruh sanak saudara yang ada didesa yang kental dengan aturan adat dan tatakrama ini. Dengan sebuah buku diary dan sebuah pulpen bertinta hitam, aku menulis, menulis dan menulis. Ketika bahagianya seorang anak labil yang baru saja terlalu dalam mengenali tentang seseorang yang sebenarnya sudah lama ia kenal.
            10 tahun lalu, terhitung saat aku menulis novel ini. Sebuah Kapal very Marina berlayar mengantarkan Aku, Ayah dan seorang adik-ku menyebrangi laut dari Batam Kota kelahiran-ku menuju taluk kuantan. Disebabkan Ayah mengidap penyakit yang sudah menelan banyak biaya untuk keluarga kecil yang berada dirantau. Jadi, rasanya tak memungkinkan lagi untuk kami sekeluarga berada dirantau. Maka harus ada yang dikorbankan, yaitu Aku, Ayah dan adik pulang kampung. Sementara itu, ibu tetap dirantau untuk tetap bekerja disana. Disalah satu PT. Elektronik terbesar di Batam sebagai Supervisor sebelum akhirnya Ibu-pun melarikan diri tanpa resign dari kantornya untuk menyusul pulang kampung.
__________________
Gerimis setelah hujan lebat yang mengguyur bumi sore itu temani gurauan serta candaan-candaan kami diasrama menunggu waktu maghrib tiba. Bersama teman-teman senasib sepenanggungan aku begitu bahagia, karena menurutku teman-temanku adalah pelengkap asam dan manisnya hidup dipesantren tanpa orang tua. Dengan setiap harinya yang kami lewati. Pertengkaran?, itu sudah biasa terjadi diantara kami. Aku dan ninda, dua anak muda labil yang selalu menebar kebahagiaan serta candaan  bersama-sama. Dan juga teman-teman lainnya disekelilingku yang tak kalah ber-artinya.
Awal kelabilan itu dimulai saat aku mengenal seseorang yang aku rasa tak harus aku sesali kehadirannya. Meski membuat masa labilku sebagai anak remaja cukup menyedihkan.
M. Adnan giorgino, abang kelasku di penjara suci1, yang hiasi lembaran-lembaran diaryku  tentang perasaan seorang bocah labil kepada abang kelasnya.
Tak banyak kisah dalam 3 tahun yang telah berlalu itu, namun bisa hilangkan senyum ceria seorang gadis saat sendirinya, dan gadis itu adalah aku. Gadis seumuran jagung yang usia nya baru saja 12 tahun, 12 tahun??, itu sangat muda sekali, bahkan aku sendiripun tertawa heran bila mengingat usiaku itu, mungkin saat itu aku hanya mengalami CINTA MONYET seperti  yang biasa anak muda saat ini katakan, yahhh, aku-pun merasa begitu. Tapi bagaimana??, jika perasaan itu berlangsung hingga bertahun-tahun lamanya, apakah itu tetap akan dinamakan CIMON?, hingga saat inipun aku masih ragu. Tapi selama itulah aku benar-benar menyimpannya dalam-dalam. Dan bahkan pernah berinsting konyol untuk mengirimkan surat saat aku benar-benaar merasa rapuh dalam kelabilan itu, hahh lucu sekali.          
Hari itu, saat dimana aku pergi mendaftar kesebuah pesantren yang kini menjadi sangat bersejarah bagi sepenggal hidup dan hatiku. Saat ingin masuk keruangan penerimaan siswa baru, kala itu aku berpapasan dengan seorang laki-laki tepat didekat pintu masuk. Lelaki itu memiliki suatu hal yang membuatku aneh, aku tertegun sebentar, seperti ada ikatan tak jelas apa? sedang aku rasakan. Dia berbeda, hanya melihatku datar tanpa senyum sedikitpun, namun santun dan bersahaja. Dan itulah yang aku rasa membuatku terus mengingatnya dirumah, sembari menunggu hasil kelulusan terpilih menjadi santri disana. Setiap harinya aku yang awal-awal tak terlalu ngeh untuk masuk pesantren menjadi menggebu-gebu dan sangat berharap diterima.
            Aku jadi rajin sholat dan mempersiapkan segalanya. Mulai dari memperbanyak baju-baju panjang, rok, jilbab panjang-panjang serta perlengkapan lain yang dirasa akan diperlukan bagi seorang yang akan menyantri. Aku tak tahu bagaimana cara terbaik untuk meng-ekspresikan ataupun mengungkapkannya. Tapi begini, mulai saat itu aku seperti menjadikannya sesosok yang aku kagumi. Bahkan bila pulang kampung libur sekolah, seorang tetangga yang sudah seperti kakak bagiku sering menggoda-ku dengan mencomblangkan dengan teman-teman lelakinya sesambilan bercanda. Namun aku tak pernah merespon. Aku benar-benar tak pernah tertarik walau aku tahu dengan sesadar-sadarnya bahwa teman-temannya itu jauh lebih tampan dari Bang Adnan. Bisa aku katakan bahwa dia adalah lelaki sesudah Ayah yang bila diurutkan dengan angka adalah nomor 2 bagiku.
Begitulah, hingga nyatanya aku tahu aku diterima dipondok ini. Dan mulai mengaguminya. Rasa kagum yang kian lama mengantarkan deru rasa bernama cinta dengan beriringnya waktu. Yang membuat ombak tak mampu lagi menerjang karang. Yah, karang derita yang keras kepala dan bersikukuh untuk bertahan dalam terjangan ombak itu. hingga 4 tahun lamanya. Cinta itu pun datang menghampiri karena sebuah alasan! Membuat asa kembali membara untuk sesaat saja. Lalu jatuh lagi, kembali sakit lagi. Setelah yang ada hanya perih dari bekas luka yang tak kunjung mengering..
Sepanjang hari dan setiap waktu di pesantren sangat aku nikmati. Termasuk menikmati bagaimana itu memendam perasaanku padanya. Seperti orang bodoh aku selalu memandanginya dari jauh. Begitulah adanya, dekat namun jauh. Meski tinggal dilingkungan yang sama yang hanya bisa ku-lakukan adalah benar-benar memandangi saja.
 Paling lumayan momen yang paling para santriwati tunggu salah satunya diriku adalah saat dimana para santri mengantarkan galon air minum persediaan untuk para santriwati, kalau tidak saat dimana para santri memanen ikan yang kolam-nya ada dilingkungan asrama kami, santriwati. Yang akan sangat kelihatan centilnya tentu saja anak kelas VI Mts. Maklum, bocah-bocah baru tamat Sekolah Dasar.
Sayup-sayup azan berkumandang, suara muazzinnya sangat merdu dan basah seperti memadukan dengan alam yang sedang gerimis sendu sisa-sisa hujan lebat sebelumnya. Aku dan Ninda bergegas menuju masjid pesantren dengan sedikit berlari-lari kecil. Ditengah jalan terkilas olehku wajah seseorang yang bila hanya bayangannya sekalipun dapat aku kenali siapa dia. Aku tidak tahu, apakah dia mengetahui aku memperhatikannya atau tidak, karena aku tak pernah menunjukkan tingkah terlalu mencolok bila merasa dia akan mengetahui kehadiran-ku. Karena jujur, semakin lama dipesantren, aku jadi mengetahui segala hal tentangnya. Mulai dari alamatnya, saudara-saudaranya hingga kenyataan bahwa dia adalah seorang anak dari keluarga kaya raya, yang membuatku semakin lama semakin yakin untuk hanya menyimpan rasaku didalam hati saja. Maksudku, didalam hati, diary dan ninda. Setiap kali aku merasa Bang Adnan akan merasakan kehadiranku, aku akan mencari-cari celah lain. Seperti pura-pura bicara dengan orang lain didekatku, membaca al-kitab yang aku pegang atau bersembunyi bila ada ruang yang tepat untuk bersembunyi.
♫♫♫
“Assalamu’alikum. Thoyyib ummi ada satu pengumuman bahwa kita akan mengikuti POPDA. Salah satu utusan Pi aliyah adalah Malika Asmanadila untuk English speech. Malika asmanadila Where is she?”
Hah, apa? Aku terkejut plus senang dan tak menyangka. Padahal, tahun lalu waktu IX MTs aku malah diutus untuk fashion muslimah di acara POPDA itu. Maklum, artis sekolah, hahah. Tapi sayang, kalah.
“Iya, ustadzah. Saya “ aku menunjuk tangan.
“Iya Malika, ba’da istirahat bisa ke ruang guru nanti”
“Baik ustadzah” jawabku girang.
Aku senang sekali mendengar bahwa aku dipercaya untuk mengikuti English speech POPDA. Karena aku merupakan tipikal orang yang suka turut serta dalam sebuah acara. Seperti: mengikuti kompetisi seperti ini, akktif dalam organisasi dan kegiatan sekolah lainnya. Aku juga turut serta dalam tim redaksi Majalah sekolah kami. Bahagia saja rasanya, sambil menyalurkan hobby menulis-ku. Maka jangan heran, bila disetiap terbitan Majalah sekolah, tulisan-ku yang paling sering nangkring disana. Apa itu puisi, syair ataupun yang lainnya. Apalagi saat sedih ataupun galau. Tangan penulis-ku ini akan ringan menulis puisi seperti air mengalir. Kalau kata Ninda seperti Tangan Malaikat.
 Kata Ms. Afiqah, hari keberangkatan untuk lomba itu seminggu lagi. Kafilah pondok akan berangkat bersama-sama dengan mobil operasional pondok. Mulai dari English speech, poetry, fashion show muslimah dan lain-lainya berangkat serentak dengan dua mobil ke penginapan nantinya. Aku berfikir bahwa pasti akan sepi sekali bila tak ada ninda. Lainnya, aku terkenang Ayah dan Ibu, bukankah aku harus memberi tahu mereka dan memohon restu untuk menambah do’a dan tentu saja membuat mereka bangga. Tapi keinginan itu aku tepis. Aku berfikir untuk memberi tahu mereka nanti saja. 3 atau 2 hari sebelum tanggal keberangkatan.
Aku sibuk menghafal-hafal teks pidato-ku saat jam istirahat. Karena kami sedang berpuasa senin kamis, Ninda juga nangkring didalam kelas bersamaku. Namun berbeda kegiatan, dia sedang memuroja’ah hafalan Al-qur’annya. Maklum, calon mahasiswi Madinah. Keinginannya semenjak menyantri disini. Saat ini, hafalan ninda sudah 15 Juzz. Aku? 5 juzz sajalah. Aku sangat bangga dan terharu melihat ketekunan Ninda. Dia tak pernah setengah-setengah bila sudah berniat. Ninda pernah mengatakan kepadaku: Kesempatan itu memang benar selalu ada, namun hanya satu dari kesempatan yang banyak itu yang milik kita. Jadi anggap kesempatan yang datang adalah yang terakhir dari milikmu. Katanya begitu. Walau dia tak sepuitis aku, pencerahan selalu ada darinya dengan makna tak kalah menusuk seperti puisi-puisi ciptaan-ku.
“Kepada utusan English speech Aliyah dan Tsanawiyah harap kekantor” Ms. Afiqah memanggil dari thoa sekolah.
“Hah,” Aku tersentak. Karena terlalu asik mondar-mandir menikmati hafalan speech-ku. Aku jadi kaget mendengar suara thoa.
“Nin, aku pergi dulu yah..” sumbringah aku berpamitan dengan Ninda.
“1,2,3. Satu orang lagi mana?”
Aku tahu pasti maksutnya pa aliyah. Soalnya, yang memakai rok abu-abu Cuma aku sendiri. Dua lainnya pa dan pi tsanawiyah. Ah aku hanya diam.
            “Muhammad Adnan, Ayna huwa..” desis beliau tidak terlalu jelas.
            Hah, ya tuhan ya tuhan. Pa speech Aliyah Bg Adnan?. Aku berusaha tenang. Tapi tak dapat aku pungkiri ada rasa bahagia yang meledak-ledak didalam hatiku. Rasanya ingin berlari ke Ninda dan meluapkan kebahagiaan-ku yang sangat tak aku sangka akan terjadi ini.
            Aku jadi banyak salah tingkah. Membayangkan 5 hari kedepan nanti Aku dan Bang Adnan akan satu guru latihan ?. Aku seperti melayang-layang bahagia mengingatnya. Namun aku sadar harus mmengontrol diri. Harus tenang dan berperilaku sebagai wanita muslimah yang anggun. Sedikit kontras dengan sifat asli-ku.
            Sore-sore sehabis sholat ashar aku pergi untuk latihan English speech yang dibimbing oleh ustd. Seprion. Tapi aku tidak tahu dimana persisnya tempat latihan itu. Aku sudah minta ditemani oleh Ninda. Tapi Ninda juga harus ikut Halaqah. Jadi aku terpaksa harus pergi sendiri.
            Aku masih mondar-mandir. Benar-benar kebingungan. Diujung jalan sana, didekat pagar aku melihat Seseorang. Kira-kira 3 menit ada aku memastikan orang itu memang orang yang aku maksut. Orang yang aku kenal. Yah, aku melihat Bang Adnan disana. Aku tahu pasti dia juga ingin pergi latihan. Sama sepertiku, dia juga belum bertemu dengan ustd. Seprion. Pelan namun pasti, ku-langkahkan kaki menuju kearahnya. Sedikit demi sedikit. Akhirnyaa ??
            “Eh, anty Lala, na’am?” katanya   membuat-ku salah tingkah. Hah? Dia tahu nama-ku pula?..
            “Na’am” kataku lalu menunduk..
            “Ana sengaja menunggu disini. Menunggu anti supaya tidak kebingungan mencari tempat latihan. Kata ustd. Seprion seperti itu. Beliau yang menyuruh. Baik, mari!” katanya sangat tenang dan santai.
            “Syukron kalau begitu” kata-ku lalu mengikuti langkahnya dari belakang.
            Disana, di saung pondok ini. Tempat dimana kami latihan hanya ada kami bertiga. Aku, ust. Seprion dan tentunya Bang Adnan. Aku senang, bisa belajar bersama dia.
Belakangan, Aku jadi semakin sering bertemu dengannya. Apalagi nanti akan satu wisma untuk lomba itu. Dia juga tidak terlalu sesantai sebelumnya bila bertemu dengan-ku. Aku sudah melihatnya tersenyum walau sedikit kepadaku. Kalau tidak salah, 2 kali ada. Tapi, Ninda bilang: La, fokus saja pada speech-nya. Jangan melamunkan Bang Adnan melulu. Ntar berkah lomba-mu hilang loh. Emangnya kamu mau ditengah-tengah pidato bilang nama dia. Ninda memang ada benarnya. Aku harus fokus dan tenang.
            Malamnya, aku menemui ustdzah untuk menelpon ibu dan ayah. Aku mau minta doa dan restu. Aku sangat senang mendengar suara ibu. Sungguh sangat meneduhkan hati. Ibu bilang: jangan sombong, nak. Jangan gugup. Sebelum kamu tampil banyak-banyak baca astagfirullah sama alfatihah. Ibu selalu begitu. Yang pertama-tama diingatkannya kepadaku pasti selalu jangan sombong. Karena kata ibu sombong adalah musuhnya manusia. Salah-salah Cuma karena kesombongan yang aku hafalkan bisa jadi 0 besar. Ayah? Bukan tipikal yang suka banyak bicara. Walau begitu aku tahu dia turut berbangga hati atas aku. Aku hela nafas panjang, “ Assalamu’alaikum bu”. Telepon-pun terputus setelahnya.
            Pagi-pagi aku sudah siap dengan mental yang baik dan hafalan yang fasih, insya’allah. Tadi malam aku dan adik kelasku bertahajud agar dimudahkan olehNya urusan kami. Ruangan untuk setiap cabang perlombaan berbeda. Kami berempat dari English speech tentu diruanagn yang sama. Aku duduk disamping Bang Adnan dekat kursi yang sudah disediakan sedangkan dua adik kelasku disamping kanan-ku. Aku undian 8 dan Bang Adnan undian 16. Ada kebahagiaan besar yang aku rasakan. Bang Adnan seperti memberikan aura positive bagiku. Kali ini, aku tak lagi salah tingkah ataupun gugup didekatnya. Aku santai, benar-benar santai. Tidak canggung lagi. Kami mulai berbincang-bincang.
            “Gugup tidak?” katanya.
            “lumayan,” kataku.
            “Jangan gugup. Anggap ini pertunjukan-mu. Nih, permen” disodorkannya kearah-ku..
            “Terima kasih, kak” kata-ku. “Emm, ada dua tidak, kak” sambung-ku kemudian..
            “Ada, ada.” Dia lansung memberikannya kepadaku tanpa berfikir panjang dan bertanya kenapa.
            Aku-pun mengambbilnya. Memasukkan yang satu didalam saku. maksutnya mau disimpan. Dan memakan yang satunya lagi. Setelah itu aku lebih banyak diam dan memperhatikan setiap penampil. Sembari mengucap astagfirullah dan alfatihah seperti yang disuruh oleh ibu.
            The Next contestant is number 8. Time is yours. Himbauan panitia mengejutkan Aku.
            Aku-pun maju kedepan dengan tenang. Bang Adnan tersenyum kearahku. Membuat percaya diriku semakin tinggi. Bismillahirrahmanirrahim, ku mulai langkah kanan menuju pentas. Ku tembakkan senyum terindah yang aku punya keseluruh penjuru ruangan. Assalamualaikum, mulaiku. Dengan sangat fasih ku lontarkan kata demi kata seperti telah bertahun-tahun aku menghafalnnya. Berkat ilmu dari Ninda. Aku memang menjadikan itu petuah alam. Aku benar-benar membawakan bak itu adalah kesempatan terakhir dari milikku. Dengan bangga aku menyebut nama-Nya dan nabi-Nya. Save our generation. Judul pidato-ku kala itu. seolah menjadi perwakilan didalamnya, aku semakin tidak ada beban menyampaikannya. Alhamdulillah, kututup pidato dengan rasa syukur kepada Tuhan. Aku lega. Seperti telah membuang muntah yang menggelayut dalam perutku.
            Aku sudah tak peduli lagi dengan hasilnya. Yang penting aku sudah berjuang keras semampu-ku. Aku bangga dengan 3 rekanku. Terlebih-lebih pada Bang Adnan. Dia sangat gagah didepan sana. Aku nyaris bengong melihatnya berpidato. Tembakan-tembakan setiap bagian yang diberikannya sangat memukau. Aku nyaris tak berkedip menyaksikan ia berpidato. Tak kusangka dia sehebat itu. membuat perasaan hati-ku semakin dagdigdug. Nindaa, aku ingin kembali ke-asrama. Menceritakan kebahagiaan-ku disini. Aku juga diberinya permen nin.
            Malam menjelang, ini hari terakhir di wisma, malam ini penutupan acaranya. Kalau pengumuman menang dan kalah akan disampaikan semingu kedepan nanti. Selamat berakhir kisah 3 hari ini. Aku bahagia, aku bangga. Ku hela nafas panjang lalu tersenyum menatap kerlap kerlip gemintang nan berkilauan. Subhanallah indah tak ada banding ciptaan-Mu Tuhan.

♫♫♫
to be continued!

Comments

Post a Comment